Aku, dan apa yang ada di sekitarku...
  • This is Sarimind's Blog

    Bertempurlah, Bertarunglah dalam kenyataan, Meski kau tahu akan ada kekalahan, Yakinlah; darahmu takkan sia-sia..... ( gola gong )

  • This is Sarimind's Blog

    Wahai hati, Bersabarlah dalam menanti. Yakinlah janji-Nya adalah pasti, Pada akhirnya kebahagiaanlah yang kelak kan diraih. Wahai jiwa, Tenanglah dalam lara, Percayalah bahwa janji-Nya adalah nyata. Jangan pernah ragu dengan kehendak-Nya...

  • This is Sarimind's Blog

    Take a time to THINK, it's the source of power. Take a time to READ, it's the foundation of wisdom. Take a time to QUIET, it's the oportunity to seek God. Take time to DREAM, it's the future made of. Take time to PRAY, it's the greatest power on earth.

Tampilkan postingan dengan label Materi PAI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Materi PAI. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 Oktober 2022

Posted by ashidqy hayun on 14.41 in , , | No comments

Assalamualaikum Wr Wb.

Bismilaahirrohmaniirrohim.

Alhamdullaahi Robbil ‘alamin. Washolatu wassalamu ‘ala sayyidina Muhammadin wa’ala alihi wa shobihi ajma’in.

 

Ya Allah, Tuhan yang Maha Pengaish dan Penyayang, segala puji dan syukur kami panjatkan kehadiratMu atas segala kenikmatan yang telah Engkau berikan. Ya Allah, ya Rahman ya Rahim, curahkan kasih sayangMu kepada kami, pada puncak peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-94 tahun 2022.

 

Ya Allah Ya Aziz Ya Adhim (Zat yang Maha Perkasa lagi Maha Agung)

 

Berikanlah kepada para pemimpin kami petunjukMu yang nyata, ketajaman mata hati, kesabaran yang membaja, kerendahan hati, keikhlasan, dan rasa syukur yang tinggi dalam mengabdi serta berkarya. Tautkan kesabara kami, kokohkan kesungguhan kami, bersihkan hati kami agar kami tetap mampu berupaya keluar dari persoalan sulit yang harus kami pecahkan, serta bersikap bijak atas kekurangan.

 

Ya Allah Ya Jabbar Zat yang Maha Kuasa, jadikanlah Pemuda Indonesia, pemuda yang mandiri, kreatif, dan inovatif demi kemajuan bangsa dan negara, serta jadikanlah mereka pemimpin-pemimpin dunia.

 

 

Ya Allah Ya Hakim Zat yang Maha Bijaksana. Eratkan persatuan kami untuk terus Bersatu Bangun Bangsa, hingga menghasilkan kekuatan dahsyat membangun kemaslahatan bangsa dan dunia. Limpahkan hikmahmu agar perbedaan yang ada mampu kami satukan, kami rajut menjadi mozaik kekuatan.

 

Berikanlah kekuatan kepada kami untuk bangkit dari keterpurukan ekonomi akibat pandemi Covid-19. Pancarkan cahayaMu untuk menerangi pikiran dan hati kami sehingga kami mampu berkreasi dan berinovasi untuk kemajuan negeri. Jauhkan kami dari sifat iri, dengki, dan perangai yang tidak terpuji.

 

Ya Allah yang Maha Mengabulkan Doa, bimbinglah para pemuda dan pemudi harapan bangsa. Jadikanlah mereka pemuda yang tangguh dalam berkarya, kuat dalam pendirian serta senantiasa berlomba dalam kebaikan. Jadikanlah para pemuda-pemudi kami menjadi pelopor perubahan yang bermartabat, menjunjung tinggi etika dan moral serta mengedepankan semangat nasionalisme.

 

Karena itu Ya Allah, tunjukanlah kepada kami jalan yang benar, sebagaimana jalannya orang-orang yang Engkau berikan kenikmatan dan bukan jalannya orang-orang tersesat yang Engkau hinakan.

 

Hanya kepadaMu kami memohon dan hanya kepadaMu kami berserah diri.

 

Robbana Dholamna Anfusana wa illam taghfirlana wa tarhamna lanakunanna minal khosirin. Robbana atina fiddunnya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qina adzabannaar. Wa shollallohu ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallim. Subhana robbika robil ‘izzati ‘amma yashifuun, wa salamun ‘alal mursalin. Walhamdulillahi robbil alamiin.

Senin, 01 April 2019

Posted by ashidqy hayun on 04.00 in , | No comments
Masalah penting yang sering dihadapi guru dalam kegiatan pembelajaran adalah memilih atau menentukan materi pembelajaran atau bahan ajar yang tepat dalam rangka membantu siswa mencapai kompetensi. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa dalam kurikulum atau silabus, materi bahan ajar hanya dituliskan secara garis besar dalam bentuk “materi pokok”. Menjadi tugas guru untuk menjabarkan materi pokok tersebut sehingga menjadi bahan ajar yang lengkap. Selain itu bagaimana cara memanfaatkan bahan ajar juga merupakan masalah. Pemanfaatan yang dimaksud adalah bagaimana cara mengajarkannya yang ditinjau dari pihak guru dan cara mempelajarinya dari pihak siswa. Berkenaan dengan pemilihan bahan ajar ini, secara umum masalah yang dimaksud meliputi cara penentuan jenis materi, kedalaman, ruang lingkup, urutan penyajian dan perlakuan (treatment) terhadap materi pembelajaran. Masalah lainnya yang berkenaan dengan bahan ajar adalah memilih sumber di mana bahan ajar tersebut didapatkan.

Biasanya baik siswa, orang tua maupun guru cenderung menganggap sumber bahan ajar hanya dititik beratkan pada buku. Keberadaan buku memang sangat membantu dalam proses pembelajaran, namun jangan sampai hanya berpedoman pada buku. Karena masih banyak sumber bahan ajar yang lain selain buku yang dapat digunakan. Bukupun tidak harus satu macam dan tidak harus sering berganti seperti terjadi selama ini. Berbagai buku dapat dipilih sebagai sumber bahan ajar. Namun selain buku, sumber bahan ajar lainnya dapat didapatkan dari internet, jurnal, majalah, koran, CD interaktif, lingkungan dan masih banyak lagi yang digunakan sebagai sumber belajar.
Berkaitan dengan hal-hal tersebut diatas, maka bagi Guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti kelas 9, kami sertakan materi-materi yang bisa digunakan sebagai buku pendamping dalam proses pembelajaran. Materi-materi dalam buku pemndamping ini adalah buah karya dari teman-teman GPAI di Kabupaten Karanganyar dalam Pelatihan dan Works Shop Penulisan Buku Pendamping yang di adakan oleh MGMP PAI SMP Kab. Karanganyar.  😃

Untuk materi kelas 7 dan 8 mohon bersabar, inshaallah akan segera kami upload

Berikut ini materi-materi buku pendamping mapel Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kurikulum 2013 untuk kelas 9 SMP. Semoga bermanfaat.

1. Q.S Az Zumar

2. Iman Kepada Hari Kiamat

3. Jujur dan Menepati Janji

4. Berbhakti Kepada Orangtua dan Guru

5. Zakat Fitrah dan Zakat Mal

6. Ketentuan Penyembelihan

7. Sejarah Perkembangan Islam di Nusantara

8. Damaikan Negeri dengan Toleransi

9. Tata Krama, Sopan Santun dan Rasa Malu

10. Iman Kepada Qadha dan Qadar

11. Dahsyatnya Persatuan Dalam Ibadah Haji dan Umrah

12. Akikah dan Qurban

13. Menelusuri Tradisi Islam di Nusantara

Sabtu, 23 Maret 2019

Posted by ashidqy hayun on 10.25 in , , | No comments
PROGRAM UJIAN PRAKTIK
UJIAN SEKOLAH BERSTANDAR NASIONAL (USBN)
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
Tahun Pelajaran 2018/2019
                                      Jenis ujian                    :        Praktik
                                      Nama Sekolah             :        SMP N 1 Jumapolo
                                      Jumlah Siswa              :        198 siswa


Pendidikan Agama Islam ( PAI ) merupakan salah satu materi pelajaran yang istimewa. Di dalam materi pelajaran ini, tercakup berbagai aspek yang meliputi Alqur’an, keimanan ( tauhid ), Fiqih, akhlak, dan tharikh ( sejarah ). Materi Pendidikan Agama Islam sendiri cakupannya tidak hanya meliputi bidang pengetahuan saja, tetapi juga sebagai bahan agar siswa mampu bersikap, berakhlak, dan mempraktikkan ajaran agamanya. Oleh karena itu, sebagai pelaksanaan kurikulum yang berlaku saat ini, Pendidikan Agama islam diarahkan kepada hal-hal sebagai berikut:
a.       Meningkatkan ketaqwaan terhadap Allah swt.
b.      Meningkatkan penghayatan dan pengamalan ajaran agama dalam rangka meningkatkan akhlaqul karimah.
c.       Menghindari kecenderungan pendangkalan dan pengkerdilan, pemahaman dan kehidupan spiritual keagamaan.
d.      Meningkatkan peranan agama sebagai pemberi motivasi.
e.       Menanggulangi dampak negative dari proses modernisasi yang berbentuk praktik-praktik cultural yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa.
f.       Mengimbangi dan mengadakan adaptasi dalam proses modernisasi dalam bentuk pengembangan pikiran-pikiran ilmiah dalam cara menghayati dan mengamalkan ajaran agama.
Karena beberapa hal inilah, maka peran dari Pendidikan Agama Islam sangatlah vital bukan hanya sebagai suatu ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai kontrol dan pemberi pengalaman nyata bagi peserta didik dalam mengamalkan ajaran agamanya.
Berkaitan dengan hal-hal tersebut di atas, maka sebagai bentuk tanggungjawab atas pelaksanaan pembelajaran dan pengamalan nilai keagamaan, maka kami mengadakan program Ujian Praktik untuk mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.
Ujian praktik dilaksanakan dengan maksud mengukur keterampilan peserta didik dalam aspek membaca dan hafalan Al-Qur’an, dan jenis-jenis praktik ibadah dalam kehidupan sehari-hari.


A. Bidang Ujian Praktik dan Kemampuan yang Diuji
Bidang-bidang yang diujikan sangat banyak, tetapi GPAI bersama Pengurus MGMP dan satuan pendidikan dapat memilih atau menentukan aspek apa saja yang di-uji praktik-kan. Alternatif yang dapat dipilih antara lain:
1.  Al-Qur’an, dengan uji kemampuan membaca dan penerapan tajwid, serta hafalan surat-surat pendek Al-Qur’an.
2.  Fiqh, aspek yang diuji, antara lain:
a.    Praktek Thaharah (wudhu, tayamum, dan membersihkan najis)
b.    Praktik Shalat (Fardhu Berjamaah, Shalat Sunnah, Shalat Jenazah)
c.    Praktik Dzikir dan Do’a sesudah Shalat Fardhu
d.    Uji penyelenggaraan jenazah, dapat dikembangkan kepada tata cara memandikandanmengkafani.
3.  Akhlak, aspek yang diuji, antara lain: Adab saat melaksanakakan praktik, yakni: cara berpakaian, adab saat masuk/duduk, adab saat shalat, adab saat membaca dan menghafal surat-surat pendek Al-Qur’an, dan adab saat dzikir dan do’a.  

Untuk lebih lengkapnya silahkan download di link berikut :




Kamis, 21 Maret 2019

Posted by ashidqy hayun on 12.14 in , , | No comments
Proposal Kegiatan Ramadhan 1438 H
SMPN 1 Jumapolo Kab. Karanganyar
 
I. Pendahuluan 

Siswa dengan segala vitalitasnya menyimpan sejumlah potensi yang patut dikembangkan. Di masa depan, mereka merupakan pelaku utama dalam perubahan masyarakatnya, sehingga maju mundurnya kehidupan ada di tangan mereka. Dan bagaimana mereka sukses di jamannya amat bergantung kepada keseriusan menanggapi suatu informasi, serta membiasakan dalam diri mereka untuk menjadi generasi yang berkepribadian Islami yang tangguh (syakhshiyah Islamiyah) yaitu memiliki pemikiran, perasaan dan perilaku yang mulia sesuai dengan ajaran-ajaran Islam. keteguhan dalam menjaga aqidah, ketulusan dalam berprilaku sosial (mu’amalah), disertai dengan kepatuhan dalam beribadah.
Terkait dengan adanya bulan Ramadhan yang merupakan bulan penuh rahmat, berkah dan ampunan Allah Swt dan merupakan salah satu media tarbiyah/pendidikan yang diperuntukkan kepada umat yang beriman untuk melatih diri agar menjadi hamba Allah yang mampu mengendalikan hawa nafsu.  Agar nafsu yang notabene cenderung terhadap hal-hal yang buruk, mengarah ke jalan Syaiton,  dapat diarahkan dan menjadi kekuatan untuk dapat mendekatkan diri kepada jalan yang diridhoi dan dirahmati Allah.
 Dengan mencermati keutamaan-keutamaan bulan Ramadhan sebagaimana tersebut diatas, maka kita akan menjadi hamba Allah yang merugi bilamana kita tidak dapat mengisi dan memanfaatkan bulan Ramadhan ini dengan melatih diri (Tarbiyatun nafs) dan memperbanyak amalan-amalan serta kegiatan yang positif sebagai bentuk investasi kita yang sebenarnya (amal shaleh) sebagai bekal kita di dunia sampai di akherat kelak.
Sejalan dengan pemikiran di atas, serta untuk mengoptimalkan hadirnya bulan Ramadhan sebagai Syahrul Tarbiyah, maka kami selaku pengampu pendidikan agama Islam di SMPN 1 Jumapolo, sebagaimana rutinitas tahun-tahun sebelumnya, mengadakan paket pembinaan kepribadian Islam bagi seluruh peserta didik di SMPN 1 Jumapolo melalui kegiatan Ramadhan 1438 Hijriyah.
Untuk lebih lengkapnya, proposal kegiatan ramadhan dan jadwal kegiatan dapat didownload pada link di bawah ini.

Sabtu, 28 Juli 2018

Posted by ashidqy hayun on 09.02 in , , , | No comments
ALHAMDULILLAHIROBIL ALAMIN, YAA ROBBANA LAKALHAMDU  WALAKAL MULQU  WALAKAL SYUKRU KAMAA YANBAGHI LIJALAALIWAJHIKA WA ADZIIMI SULTHOONIK.

ALLAHUMMA SHOLLI WASALIM ALAA ‘ABDIKA WAROSUULIKA MUHAMMADIN. WA ALAA AALIHI
WA ASHAABIHI AJMA'IIN.

Ya Allah Ya Fattah Ya Rozzaaq
Dengan mengucapkan puji serta syukur kehadirat-MU atas segala rahmat karunia-MU yang telah ENGKAU limpahkan kepada kami, pada hari ini dengan penuh pengharapan kami hadir di sini kiranya ENGKAU memberikan barokah dan ridho-MU dalam acara yang kami laksanakan ini.

Ya Allah Ya Tuhan kami..
Kegiatan ini sangat besar sekali arti dan maknanya bagi kami, menjalin silaturahim sekaligus meningkatkan kompetensi kami di bidang kami, untuk itu ya Allah, tanamkan sifat rahman dan rahim-MU kepada kami sekalian sehingga dapat berkiprah dalam pembangunan pendidikan ini.

Allahumma Ya Allah, Ya Tuhan kami..
Dengan kegiatan workshop ini kiranya Ya Allah, ENGKAU dapat melimpahkan pengetahuan dan kekuatan kepada kami dan ENGKAU tumbuhkan rasa persaudaraan, persatuan yang kokoh di antara kami terjalin dengan baik dan utuh.

Ya Allah... Ya Ghoffar Ya Qohhar...
ampunilah segala dosa kesalahan-kesalahan kami,, kedua orang tua kami, guru guru kami, semua teman-teman kami yang seiman... dan terimalah permohonan kami
ROBBANA DHOLAMNA ANFUSANA WAILLAM TAGHFIRLANA WA TARHAMNAA LANAKUNANNA MUNAL KHOSIRIIN
ROBBANA ATINAA FIDUNYA HASANAH  WAFIL AKHIROTI HASANAH,
WAQINAA ADZABANNAR.
WASHOLALLAHU ALA MUHAMMADIN WA ALAA ALIHI WA ASH HAABIHI AJMAIIN
WALHADULILLAHI RABBIL’ALAMIIN…

Jumat, 20 Juli 2018

Posted by ashidqy hayun on 08.37 in , | No comments
ALHAMDULILLAHIROBIL ALAMIN, YAA ROBBANA LAKALHAMDU  WALAKAL MULQU  WALAKAL SYUKRU KAMAA YANBAGHI LIJALAALIWAJHIKA WA ADZIIMI SULTHOONIK.
ALLAHUMMA SHOLLI WASALIM ALAA ‘ABDIKA WAROSUULIKA MUHAMMADIN. WA ALAA AALIHI
WA ASHAABIHI AJMA'IIN.
YA ALLAH YA FATTAH YA ROZZAAQ
kami semua berkumpul di….. ini dalam rangka pembukaan MPLS 2018/2019 memohon kepada-Mu,izinkan dan ridloilah kegiatan kami ini dalam cahaya Hidayah-Mu
YA ALLAH YA QODIIR....
Dzat yang menggenggam takdir kami, izinkanlah anak-anak kami berikhtiar untuk meningkatkan kwalitas menjadi calon peserta didik baru yang berakhlak, berbudi pekerti luhur, yang mampu mengantarkannya menjadi insan yang mulia yang dapat meraih kesuksesan dunia dan akhirat....
YA ALLAH... YA FATTAH YA ALIM...
Bukalah mata hati dan fikiran kami dan anak-anak kami agar kami semua mau dan mampu menerima segala kebaikan-kebaikan dari siapapun dan kapanpun...
YA ALLAH... YA QOWIYYU YA AZIIZ....
berikanlah kami kekuatan dzohir dan batin, agar mereka siap di didik dan mampu mengimplementasikan ilmu-ilmu yang telah kami dapatkan dari bapak ibu gurunya...
YA ALLAH... YA GHOFFAR YA QOHHAR...
ampunilah segala dosa kesalahan-kesalahan kami,, kedua orang tua kami, guru guru kami, semua teman-teman kami yang seiman... dan terimalah permohonan
kami
ROBBANA DHOLAMNA ANFUSANA WAILLAM TAGHFIRLANA WA TARHAMNAA LANAKUNANNA MUNAL KHOSIRIIN
ROBBANA ATINAA FIDUNYA HASANAH  WAFIL AKHIROTI HASANAH,
WAQINAA ADZABANNAR.
WASHOLALLAHU ALA MUHAMMADIN WA ALAA ALIHI WA ASH HAABIHI AJMAIIN
WALHADULILLAHI RABBIL’ALAMIIN…

Sabtu, 31 Maret 2018

Posted by ashidqy hayun on 10.12 in , | No comments
Bapak/Ibu guru PAI se-Jawa Tengah yang kami hormati, berikut kami sampaikan panduan teknis bagi pelaksanaan lomba mata pelajaran dan seni islami ( MAPSI ) tahun 2018 yang inshaallah akan kita laksanakan besok di Kabupaten Jepara. Semoga panduan teknis MAPSI 2018 ini dapat dijadikan sebagai bahan acuan dan bisa bermanfaat sebagai bahan untuk mempersiapkan anak didik kita dalam mengikuti perlombaan MAPSI tersebut.


silahkan download di link di bawah ini

link : Panduan Teknis MAPSI 2019

Jumat, 24 November 2017

Posted by ashidqy hayun on 10.52 in , , | No comments
Al-Kisah diceritakan, ada seorang wanita yang dikenal taat dalam beribadah.
Dia sangat rajin melakukan ibadah wajib maupun sunnah. Hanya ada satu kekurangannya, ia tak mau berjilbab menutupi auratnya.
Setiap kali ditanya ia hanya tersenyum, seraya menjawab: “Insya Allah yang penting hati dulu yang berjilbab.”
Sudah banyak orang yang menanyakan maupun menasihatinya. Tapi jawabannya tetap sama.
Hingga suatu malam ia bermimpi sedang berada disebuah taman yang indah. Rumputnya sangat hijau. Berbagai macam bunga bermekaran.
Ia bahkan bisa merasakan bagaimana segarnya udara dan wanginya bunga. Sebuah sungai yang sangat jernih. Airnya kelihatan melintas di pinggir taman.
Semilir angin pun ia rasakan di sela-sela jarinya. Ada beberapa wanita di situ yang terlintas juga menikmati pemandangan keindahan taman.
Ia pun menghampiri salah satu wanita tersebut. Wajahnya sangat bersih, seakan-akan memancarkan cahaya yang sangat lembut.
“Assalamu’alaikum saudariku…”
“Wa’alaikum salam…, selamat datang wahai saudariku…”
“Terimakasih, apakah ini syurga?”
Wanita itu tersenyum. “Tentu saja bukan wahai saudariku. Ini hanyalah tempat menunggu sebelum surga.”
“Benarkah? Tak bisa kubayangkan seperti apa indahnya surga jika tempat menunggunya saja sudah seindah ini…”
Wanita itu tersenyum lagi kemudian bertanya, “Amalan apa yang bisa membuatmu kembali wahai sudariku?”
“Aku selalu menjaga shalat, dan aku menambah dengan ibadah-ibadah sunnah. Alhamdulillah.”
Tiba-tiba jauh diujung taman ia melihat sebuah pintu yang sangat indah. Pintu itu terbuka, dan ia melihat beberapa wanita yang di taman tadi mulai memasukinya satu per satu.
“Ayo, kita ikuti mereka!” Kata wanita itu sambil setengah berlari.
“Apa di balik pintu itu?”
“Tentu saja surga wahai saudariku…”
Larinya semakin cepat.
“Tunggu… tunggu aku…”
Ia berlari sekancang-kencangnya, namun tetap tertinggal.
Wanita itu hanya setengah berlari sambil tersenyum padanya. Namun ia tetap saja tak mampu mengejarnya meski ia sudah berlari sekuat tenaga.
Ia lalu berteriak, “Amalan apa yang engkau lakukan sehingga engkau tampak begitu ringan?”
“Sama denganmu wahai saudariku…” Jawab wanita itu sambil tersenyum.
Wanita itu telah mencapai pintu. Sebelah kakinya telah melewati pintu.
Sebelum wanita itu melewati pintu sepenuhnya, ia berteriak pada wanita itu, “Amalan apalagi yang engkau lakukan yang tidak aku lakukan?”
Wanita itu menatapnya dan tersenyum lalu berkata, “Apakah engkau tidak memperhatikan dirimu apa yang membedakan dengan diriku?”
Ia sudah kehabisan nafas, tak mampu lagi menjawab.
“Apakah engkau mengira bahwa Rabbmu akan mengizinkanmu masuk ke surga-Nya tanpa jilbab penutup aurat?” Kata wanita itu.
Tubuh wanita itu telah melewati, tapi tiba-tiba kepalanya mengintip keluar memandangnya dan berkata,
“Sungguh disayangkan, amalanmu tak mampu membuatmu mengikutiku memasuki surga ini. Cukuplah surga hanya sampai di hatimu karena niatmu adalah menghijabi hati.”
Ia tertegun… lalu terbangun… beristighfar lalu mengambil wudhu. Ia tunaikan shalat Malam, menangis dan menyesali perkataannya dahulu.
Dan sekarang ia berjanji sejak saat ini ia akan MENUTUP AURATNYA.

Allah SWT Berfirman “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu, dan isteri-isteri orang mukmin, ‘hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal karena mereka tidak diganggu. Dan ALLAH adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al- Ahzab: 59)

Berjilbab adalah perintah langsung dari ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala, lewat utusan-Nya yakni baginda Nabi Besar Muhammad Rasulullah Saw. Yang namanya perintah dari ALLAH adalah wajib bagi seorang hamba untuk mematuhi-Nya. Dan apabila dilanggar, ini jelas ia telah berdosa.
Semoga cerita di atas mengilhami bagi wanita yang belum berhijab. Karna berhijab bukan sekedar menjadi identitas seorang musimah saja tapi ini adalah kewajiban yang harus di kerjakan.
Semoga bermanfaat dan sekaligus pengingat untuk kita semua.
Untuk sahabat dunia-akhiratku… dia yang disana…

#sumber; dari Group Whatapps

Sabtu, 05 Agustus 2017

Posted by ashidqy hayun on 09.50 in | No comments
A. Pengertian Hari Akhir
Iman kepada  hari akhir atau hari kiamat adalah meyakini adanya kehidupan yang kekal abadi setelah hancurnya alam semesta ini dan manusia akan mendapat balasan yang seadil-adilnya tentang amal yang telah dilakukan sewaktu di dunia.Tentang kapan datangnya hari kiamat, tidak ada yang dapat mengetahuinya termasuk Nabi dan Rasul kecuali hanyalah Allah swt.   Hari akhir sama dengan hari kiamat. Para Ulama’ membagi kiamat menjadi dua macam, yaitu kiamat sugra dan kiamat kubra.

  1. Kiamat Sugra, adalah kiamat kecil, yaitu rusaknya sebagian makhluk, misalnya kematian dan terjadinya bencana alam seperti gempa bumi, gunung meletus, banjir dan sebagainya. 
  2. Kiamat Kubra, adalah kiamat besar Adalah hancurnya alam semesta dengan segala isinya secara serempak, atau berakhirnya seluruh kehidupan makhluk alam ini secara serempak.
Kapan terjadinya hari kiamat hanya Allah yang tahu, tidak ada satu makhlukpun yang dapat mengetahui secara pasti kapan kiamat terjadi (QS. Thoha : 15)

B.   Tanda-tanda hari akhir
Tanda-tanda hari kiamat diterangkan oleh Rasulullah saw dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syibah, Muslim dan Turmudzi. Tanda-tanda hari kiamat adalah sebagai berikut :
  1. Tanda-tanda kiamat kecil, antara lain :
    1. Hamba sahaya perempuan melahirkan Tuannya
    2. Ilmu agama dianggap tidak penting
    3. Perzinaan, Minuman keras, Fitnah, Pembuhan meraja rela dimana mana.
    4. Jumlah wanita lebih banyak daripada laki-laki dengan perbandingan 50:1
    5. Banyak terjadi gempa bumi / Musibah / Bencana Alam
    6. Lahirnya Dajjal (tukang dusta) yang mengaku dirinya utusan Allah swt
  2. Tanda-tanda kiamat besar , anatara lain :
    1. Matahari terbit dari barat
    2. Munculnya binatang ajaib yang dapat berbicara
    3. Rusaknya Ka’bah dengan sendirinya
    4. Seluruh manusia menjadi kafir dan lenyapnya Al- Qur’an
    5. Berkuasanya Bangsa Ya’juj dan Ma’juj di muka bumi.
C.   Gambaran hari kiamat menurut Al- Qur’an
  1.  Datangnya hari kiamat ditandai dengan tiupan sangkakala. ( Q.S.An- Naml : 87
  2. Bumi digoncangkan sekuat kuatnya hingga mengeluar kan isi yang dikandungnya  (QS. Al- Zalzalah : 1 – 5)
  3. Gunung-gunung kemudian pecah berterbangan menjadi pasir  (QS. Al-  Haqqah : 14)
  4. Matahari di gulung, bintang-bintang berjatuhan dan laut meluap. (QS. Al- Infithor : 1 – 3)
  5. Manusia tidak dapat menolong manusia lainnya, bahkan seorang ayah terhadap anaknya sendiri. (QS. Lukman : 33)
 D. Peristiwa yang berhubungan dengan Hari Akhir :
  1. Yaumul Barzah / Alam Kubur, Masa / waktu antara sesudah meninggal nya seseorang sampai menunggu datangnya hari kiamat. “ (Q.S.Al Khafi ayat 99 )
  2.  Yaumul Baats, Masa dibangkitkannya manusia dari alam kubur mulai dari manusia pertama sampai manusia terakhir ( Q.S. Al Zalazalah ayat 6 )
  3. Yaumul Mahsyar : Masa dikumpulkannya manusia dipadang mahsyar untuk dihisab / diperhitungkan amal kebaikan dan keburukanya. (Q.S. Ibrahim : 48)
  4. Yaumul Hisab/ Mizan : Masa diperhitungkan / ditimbang amal kebaikan dan keburukan manusia“ ( Q.S. Yasin : 65 )
  5. Syirot : Jembatan / jalan yang menghubungkan / mengantarkan manusia kesurga atau neraka.
  6. Surga : Tempat balasan bagi orang yang beriman kepada Allah SWT..(Q.S. Al Hajj : 23 )
  7. Neraka : Tempat balasan bagi orang yang ingkar kepada Allah SWT.“  (Q.S. Az Zumar : 32 )
E. Fungsi Iman Kepada Hari Kiamat
  1. Menjadikan manusia bersikap hati-hati dalam hidup di dunia sehingga akan selalu taat kepada petunjuk-petunjuk agam dan membatasi diri terhadap kesenangan hidup di dunia.
  2. Berusaha menjadi manusia yang baik selama hidup di dunia, yakni berbakti kepada Allah swt, orang tua, dan berbuat baik terhadap sesama manusia.
  3. Menyadarkan manusia akan adanya hari akhir sebagai kehidupan yang hakiki bagi manusia.
  4. Menyadarkan manusia bahwa kehidupan di hari akhir adalah tujuan setiap manusia yang hidup di dunia.
  5. Mendorong manusia untuk memperbanyak amal sholeh dan meninggalkan segala larangan-larang-Nya.
A.    LATAR BELAKANG
Kata “Qurban” berasal dari kata Qorroba – Yuqorribu – Qurbanan, yang berarti “mendekatkan diri”. Dalam istilah agama Islam berarti usaha mendekatkan diri pada Allah yang Maha Kuasa, yag realisasinya dengan menyerahkan sebagian nikmat yang telah diterima dari Allah SWT dan diserahkan kepada orang lain dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Dilatarbelakangi akan hal tersebut, dan dalam rangka upaya menanamkan dalam jiwa peserta didik di SMP N 1 Jumapolo rasa kebersamaan, sikap peduli terhadap sesama dan perwujudan sikap takwa kepada Allah SWT maka kami mengadakan “KEGIATAN IDUL ADHA 1434 H”.

B.     DASAR KEGIATAN

     Untuk lebih lengkap bisa di download di tautan berikut : Contoh Program Kegiatan Idul Adha.

Kamis, 03 Agustus 2017

Posted by ashidqy hayun on 11.55 in , , | No comments
Keteguhan Ibrahim ‘alaihissallam Dalam Mendakwahkan Tauhid Kepada Ayahnya
 
Unsur terpenting dalam proses penyucian jiwa ialah dengan menegakkan tauhidullah, menjadikannya sebagai pilar utama sehingga mempengaruhi unsur-unsur lain dalam jiwa. Apabila tauhid seseorang baik, maka baik pula unsur lainnya. Demikian sebaliknya, apabila tauhid seseorang buruk, hal itupun akan sangat berpengaruh dalam setiap gerak langkah kehidupannya. Dan kita berharap semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu memberikan taufik dan petunjuk-Nya.

Dalam mempelajari perjalanan hidup Nabi Ibrahim ‘alaihissallam, kita akan mendapatkan diri beliau sebagai insan yang sangat teguh dan gigih dalam menegakkan hak Allah Subhanahu wa Ta’ala yang agung, yakni tauhid. Hal ini dapat terlihat dalam beberapa moment, di antaranya:


1. Dakwah Tauhid Kepada Ayah Beliau ‘Alaihissallan Dengan Sabar Dan Penuh Santun.

Al-Hafihz Ibnu Katsiir rahimahullah berkata, “Penduduk negeri Harran adalah kaum musyrikin penyembah bintang dan berhala. Seluruh penduduk bumi adalah orang-orang kafir kecuali Ibrahim ‘alaihissallam, isterinya, dan kemenakannya, yaitu Nabi Luth ‘alaihissallam. Ibrahim ‘alaihissallam terpilih menjadi hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menghapus kesyirikan tersebut dan menghilangkan kebatilan-kabatilan yang sesat. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menganugerahkan kepadanya kegigihan sejak masa kecilnya. Beliau diangkat menjadi Rasul, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala memilihnya sebagai kekasih Allah Subhanahu wa Ta’ala pada masa berikutnya.
Awal dakwah tauhid yang beliau ‘alaihissallam tegakkan, ialah diarahkan kepada ayahnya, karena ia seorang penyembah berhala dan yang paling berhak untuk diberi nasihat (Al-Bidayah wan-Nihayah, juz 1, hal: 326).
Syaikh as-Sa`di rahimahullah berkata,”Ibrahim ‘alaihissallam adalah sebaik-baik para nabi setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, … yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan kenabian pada anak keturunnya. Dan kepada mereka diturunkan kitab-kitab suci. Dia telah mengajak manusia menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala, bersabar terhadap siksa yang ia dapatkan (dalam perjalanan dakwahnya), ia mengajak orang-orang yang dekat (dengannya) dan orang-orang yang jauh, ia bersungguh-sungguh dalam berdakwah terhadap ayahnya bagaimanapun caranya…” (Tafsir as-Sa`di, hal: 443.)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,


إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنْكَ شَيْئًا
“Ingatlah ketika ia berkata kepada ayahnya; “Wahai Ayahku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong engkau sedikitpun?”. (QS. Maryam:42).
Lihatlah, bagaimana Nabi Ibrahim ‘alaihissallam mendakwahkan tauhid kepada ayahnya dengan ungkapan sangat lembut dan ucapan yang baik untuk menjelaskan kebatilan dalam perbuatan syirik yang dilakukannya?! (Tafsir as-Sa`di, hal: 444). Penolakan ayahnya terhadap dakwah itu tidak menyurutkan semangat serta sikap sayang terhadap ayahnya dengan tetap akan memintakan ampunan, sekalipun permohonan ampun itu tidak dibenarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Disebutkan dalam firman-Nya,


وَمَا كَانَ اسْتِغْفَارُ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ إِلَّا عَنْ مَوْعِدَةٍ وَعَدَهَا إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ أَنَّهُ عَدُوٌّ لِلَّهِ تَبَرَّأَ مِنْهُ ۚ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَأَوَّاهٌ حَلِيمٌ
“Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk ayahnya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkan kepada ayahnya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa ayahnya adalah musuh Allah Subhanahu wa Ta’ala , maka Ibrahim berlepas diri darinya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.” (QS. At-Taubah: 114).
Dalam usaha yang lain, Ibrahim berdialog dengan ayahnya:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ آزَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا آلِهَةً ۖ إِنِّي أَرَاكَ وَقَوْمَكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
“Dan (Ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada ayahnya, Azar. ‘Layakkah engkau menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat engkau dan kaummu dalam kekeliruan yang nyata’.” (QS. Al-An’am: 74).

Syaikh as-Sa’di berkata,”Dan ingatlah (terhadap) kisah Ibrahim ‘alaihissallam manakala Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji dan memuliakannya saat ia berdakwah mengajak kepada tauhid dan melarang dari berbuat syirik.” (Tafsir as-Sa`di, hal: 224).

Demikian, perjuangan dakwah tauhid yang disampaikan Nabi Ibrahim ‘alaihissallam kepada kaumnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikannya sebagai bagian dari ayat-ayat Alquran yang akan selalu dibaca dan dipelajari secara seksama.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَإِبْرَاهِيمَ إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاتَّقُوهُ ۖ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Dan (ingatlah) Ibrahim, ketika ia berkata kepada kaumnya: ‘Sembahlah Allah dan bertakwalah kepada-Nya, yang demikian itu lebih baik bagimu, jika kamu Mengetahui’.” (QS. Al-Ankabut: 16).

Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam menafsirkan ayat ini: “Allah Subhanahu wa Ta’ala mengkabarkan tentang hamba-Nya, Rasul dan kekasih-Nya, yaitu Ibrahim ‘alaihissallam sang imam para hunafa`, bahwa ia ‘alaihissallam berdakwah mengajak kaumnya untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata dan tidak ada sekutu bagi-Nya, mengikhlaskan-Nya dalam ketakwaan, memohon rezeki hanya kepada-Nya, dan mengesakan-Nya dalam bersyukur.” (Tafsir Ibnu Katsir, Juz 3, hal: 536).
Keteguhan dakwah tauhid yang diperjuangkan Nabi Ibrahim ‘alaihissallam juga termaktub dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala surat al-Anbiya` ayat 51-56. Dan dalam beberapa ayat disebutkan, bahwa dakwah tauhid kepada ayah dan kaumnya dilakukan secara bersamaan, seperti tersebut dalam surat asy-Syu`ara ayat 69, dan ash-Shaffat ayat 84.

2. Nabi Ibrahim ‘alaihissallam Tegar Dan Tabah Menghadapi Ujian Dan Siksaan.

Sikap ini tercermin dalam kisah beliau ‘alaihissallam saat berdakwah mengajak manusia untuk bertauhid dan mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala, namun kebanyakan menolaknya dengan penuh kenistaan. Ketabahan Nabi Ibrahim ‘alaihissallam ini menjadi teladan bagi setiap dai dalam mengajak manusia menuju jalan yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kisah ketabahan Nabi Ibrahim ‘alaihissallam diabadikan dalam Alquran melalui firman-firman-Nya. Meskipun kaumnya dengan kuatnya untuk membakar dirinya, namun Nabi Ibrahim ‘alaihissallam tetap tabah dan menyerahkan segala perkara kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

قَالَ أَتَعْبُدُونَ مَا تَنْحِتُونَ. وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ. قَالُوا ابْنُوا لَهُ بُنْيَانًا فَأَلْقُوهُ فِي الْجَحِيمِ. فَأَرَادُوا بِهِ كَيْدًا فَجَعَلْنَاهُمُ الْأَسْفَلِينَ
Ibrahim berkata: “Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat itu? Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu”. Mereka berkata: “Dirikanlah suatu bangunan untuk (membakar) Ibrahim;lalu lemparkanlah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu”. Mereka hendak melakukan tipu muslihat kepadanya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina. (QS. Ash-Shaffat: 95-98).
As-Suddi rahimahullah berkata: “Mereka menahannya dalam sebuah rumah. Mereka mengumpulkan kayu bakar, bahkan hingga seorang wanita yang sedang sakit bernadzar dengan mengatakan ‘sungguh jika Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan bagiku kesembuhan, maka aku akan mengumpulkan kayu bakar untuk membakar Ibrahim’. Setelah kayu bakar terkumpul menjulang tinggi, mereka mulai membakar setiap ujung tepian dari tumpukkan itu, sehingga apabila ada seekor burung yang terbang di atasnya niscaya ia akan hangus terbakar. Mereka mendatangi Nabi Ibrahim ‘alaihissallam kemudian mengusungnya sampai di puncak tumpukan tinggi kayu bakar tersebut”. Riwayat lain menyebutkan, ia diletakkan dalam ujung manjaniq.
Nabi Ibrahim ‘alaihissallam mengangkat kepalanya menghadap langit, maka langit, bumi, gunung-gunung dan para malaikat berkata: “Wahai, Rabb! Sesungguhnya Ibrahim akan dibakar karena (memperjuangkan hak-Mu)”
Nabi Ibrahim berkata, “Ya, Allah, Engkau Maha Esa di atas langit, dan aku sendiri di bumi ini. Tiada seorang pun yang menyembah-Mu di atas muka bumi ini selainku. Cukuplah bagiku Engkau sebaik-baik Penolong.” (Fathul-Bari, Juz 6, hal: 483).
Mereka lantas melemparkan Nabi Ibrahim ‘alaihissallam ke dalam tumpukan kayu bakar yang tinggi, kemudian diserukanlah (oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala): “Wahai api, jadilah dingin dan selamat bagi Ibrahim.” (Tafsir ath-Thabari, Juz 9, hal: 43).
Ibnu Abbas dan Abu al-Aliyah, keduanya berkata: “Jika Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mengatakan ‘dan selamat bagi Ibrahim,’ niscaya api itu akan membinasakan Ibrahim ‘alaihissallam dengan dinginnya.” (Tafsir ath-Thabari, Juz 9, hal: 43).
3. Yakin Terhadap Kebesaran Allah ‘Azza wa Jalla
Pada saat Nabi Ibrahim diletakkan di ujung manjaniq, ia dalam keadaan terbelenggu dengan tangan di belakang. Kemudian kaumnya melemparkan Nabi Ibrahim ‘alaihissallam ke dalam api, dan ia pun berkata: “Cukuplah Allah ‘Azza wa Jalla bagi kami, dan Dia sebaik-baik Penolong”.
Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:

حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ
(cukuplah Allah ‘Azza wa Jalla bagi kami dan Dia sebaik-baik penolong)” telah diucapkan Nabi Ibrahim ‘alaihissallam tatkala ia dilemparkan ke dalam api (Shahih Bukhari dan Fathul-Bari, Juz 8, hal: 288, no. 4563).
Demikianlah, Nabi Ibrahim ‘alaihissallam sangat yakin dengan kebesaran, pertolongan dan perlindungan Allah ‘Azza wa Jalla , karena beliau sedang memperjuangkan hak Allah ‘Azza wa Jalla yang terbesar, yakni tauhid dalam beribadah kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala.

Perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala Berada Di Atas Segalanya

1. Kisah dalam hijrah bersama Hajar dan Ismail (Shahih Bukhari dan Fathul-Bari, Juz 6, hal: 478, no. 3364).

Ketika Ismail baru saja dilahirkan dan dalam penyusuan ibunya (Hajar), Nabi Ibrahim ‘alaihissallam membawa keduanya menuju Baitullah pada dauhah (sebuah pohon rindang) di atas zam-zam. Saat itu, tidak ada seorangpun di Makkah, dan juga tidak ada sumber air.
Nabi Ibrahim ‘alaihissallam meninggalkan jirab, yaitu kantung yang biasa dipakai untuk menyimpan makanan. Kantung itu berisi kurma untuk keduanya. Juga meninggalkan siqa` (wadah air) yang berisi air minum. Kemudian Nabi Ibrahim ‘alaihissallam berpaling dan pergi. Hajar mengikutinya sembari berkata: “Wahai, Ibrahim! Kemana engkau akan pergi meninggalkan kami di lembah yang sunyi dan tak berpenghuni ini?” Hajar mengulangi pertanyaan itu berkali-kali, namun Ibrahim tidak menoleh, tak pula menghiraukannya. Kemudian Hajar pun bertanya: “Apakah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memerintahkan engkau dengan ini?”
Ibrahim menjawab,“Ya.”
Mendengar jawaban itu, maka Hajar berkata: “Jika demikian, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan meninggalkan kami”. Lantas Hajar kembali menuju tempatnya semula. Adapun Ibrahim, ia terus berjalan meninggalkan mereka, sehingga sampai di sebuah tempat yang ia tak dapat lagi melihat isteri dan anaknya. Ibrahim pun menghadapkan wajah ke arah Baitullah seraya menengadahkan tangan dan berdoa: Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. [QS. Ibrahim ayat 37).

2. Kisah Penyembelihan Ismail.
Nabi Ibrahim ‘alaihissallam berdoa: “Wahai Rabb-ku, karuniakanlah untukku anak yang shalih,” maka Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kabar gembira kepadanya dengan kehadiran seorang anak yang mulia lagi penyabar. Dan tatkala anak itu saat mulai beranjak dewasa berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata kepadanya: “Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?”
Isma’il menjawab: “Wahai Ayahandaku, lakukanlah apa yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadamu; insya Allah engkau akan mendapati diriku termasuk orang-orang yang sabar”.
Saat keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Setelah itu Allah Subhanahu wa Ta’ala memanggilnya: “Wahai Ibrahim, sungguh kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan kami menebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian. (Yaitu) ‘Kesejahteraan yang dilimpahkan kepada Ibrahim’. Demikianlah Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mukminin. Kisah ini dijelaskan di dalam Alquran dalam surat ash-Shaffat ayat 99-111.
Dalam Tafsir al-Qurthubi, Juz 18, hal: 69 dan Tafsir al-Baghawi, Juz 4, hal: 33, Ibnu Abbas berkata:
Ibrahim dan Isma’il … keduanya taat, tunduk patuh terhadap perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ingatlah, renungkanlah kisah itu … ketika keduanya akan melaksanakan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan tulus dan tabah sang anak berkata:

يَا أَبَتِ اشْدُدْ رِبَاطِيْ حَتَّى لاَ أَضْطَرِبَ….
“Wahai Ayahku, kencangkanlah ikatanku agar aku tak lagi bergerak.”

وَاكْفُفْ عَنِّي ثِيَابَكَ حَتَّى لاَ يَنْتَضِحَ عَلَيْهَا مِنْ دَمِّيْ شَيْءٌ فَيَنْقُصَ أَجْرِيْ وَتَرَاهُ أُمِّيْ فَتَحْزَنُ….
“Wahai Ayahku, singsingkanlah baju engkau agar darahku tidak mengotori bajumu, maka akan berkurang pahalaku, dan (jika nanti) ibu melihat bercak darah itu niscaya beliau akan bersedih.”

وَيَا أَبَتِ اسْتَحِدَّ شَفْرَتَكَ وَأَسْرِعْ مَرَّ السِّكِّيْنِ عَلَى حَلْقِيْ لِيَكُوْنَ أَهْوَنُ عَلَيَّ فَإِنَّ الْمَوْتَ شَدِيْدٌ….
“Dan tajamkanlah pisau Ayah serta percepatlah gerakan pisau itu di leherku agar terasa lebih ringan bagiku karena sungguh kematian itu amat dahsyat.”

وَإِذَا أَتَيْتَ أُمِّيْ فَاقْرَأْ عَلَيْهَا السَّلاَمَ مِنِّيْ…. وَإِنْ رَأَيْتَ أَنْ تَرُدَّ قَمِيْصِيْ عَلَى أُمِّيْ فَافْعَلْ….
“Wahai Ayah, apabila engkau telah kembali maka sampaikan salam (kasih)ku kepada ibunda, dan apabila bajuku ini Ayah pandang baik untuk dibawa pulang maka lakukanlah.”

فَقَالَ لَهُ إِبْرَاهِيْمُ : نِعْمَ الْعَوْنُ أَنْتَ يَا بُنَيَّ عَلَى أَمْرِ اللهِ تَعَالَى….
(Saat itu, dengan penuh haru) Ibrahim berkata: “Wahai anakku, sungguh engkau adalah anak yang sangat membantu dalam menjalankan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala “.
Dalam Shahih Qashashil-Anbiya Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Ini adalah ujian Allah Subhanahu wa Ta’ala atas kekasih-Nya (yakni Ibrahim ‘alaihissallam) untuk menyembelih putranya yang mulia dan baru terlahir setelah beliau berumur senja. (Ujian ini terjadi) setelah Allah memerintahkannya untuk meninggalkan Hajar saat Ismail masih menyusui di tempat yang gersang, sunyi tanpa tumbuhan (yang dimakan buahnya), tanpa air dan tanpa penghuni. Ia taati perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala itu, meninggalkan isteri dan putranya yang masih kecil dengan keyakinan yang tinggi dan tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala . Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kepada mereka kemudahan, jalan keluar, serta limpahan rezeki dari arah yang tiada disangka. Setelah semua ujian itu terlampaui, Allah menguji lagi dengan perintah-Nya untuk menyembelih putranya sendiri, yaitu Ismail ‘alaihissallam. Dan tanpa ragu, Ibrahim menyambut perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala itu dan segera mentaatinya. Beliau ‘alaihissallam menyampaikan terlebih dahulu ujian Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut kepada putranya, agar hati Ismail menjadi lapang serta dapat menerimanya, sehingga ujian itu tidak harus dijalankan dengan cara paksa dan menyakitkan. Subhanallah…

3. Perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Ibrahim untuk Berkhitan.
Pada saat Ibrahim ‘alaihissallam telah mencapai umur senja (delapan puluh tahun), ia diuji oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan beberapa perintah, di antaranya agar beliau berkhitan. Sebagaimana hadits Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اخْتَتَنَ إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَام وَهُوَ ابْنُ ثَمَانِينَ سَنَةً
“Ibrahim ‘alaihissallam berkhitan di usia beliau delapan puluh tahun.” (Shahih Bukhari dan Fathul-Bari (Juz 6, hal: 468, no. 3356)).
Beliau ‘alaihissallam berkhitan dengan pisau besar (semisal kampak). Meskipun terasa sangat berat bagi diri beliau ‘alaihissallam, namun hal itu tidak pernah membuatnya merasa ragu terhadap segala kebaikan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan dalam sebuah riwayat, Ali bin Rabah radhiyallahu ‘anhu menyebutkan bahwa : “Beliau (Ibrahim ‘alaihissallam) diperintah untuk berkhitan, kemudian beliau melakukannya dengan qadum. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mewahyukan ‘Engkau terburu-buru sebelum Kami tentukan alatnya’. Beliau mengatakan: ‘Wahai Rabb, sungguh aku tidak suka jika harus menunda perintah-Mu’.” (Shahih Bukhari dan Fathul-Bari, Juz 6, hal: 472)

4. Perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala Untuk Membangun Ka`bah.

وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَنْ لَا تُشْرِكْ بِي شَيْئًا وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ
“Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): “Janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku’ dan sujud. Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh,” (QS. Al-Hajj: 26-27).
Dalam Shahih Bukhari disebutkan, bahwasanya Ibrahim ‘alaihissallam berkata: “Wahai anakku, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan aku sesuatu”.
Ismail ‘alaihissallam menjawab: “Lakukanlah perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada engkau”.
Ibrahim ‘alaihissallam bertanya: “Apakah engkau (akan) membantuku?”
Ismail ‘alaihissallam menjawab: “Ya, aku akan membantu engkau”.
Ibrahim ‘alaihissallam berkata lagi: “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan aku untuk membangun disini sebuah rumah”. (Nabi Ibrahim ‘alaihissallam mengisyaratkan tanah yang sedikit tinggi dibandingkan dengan yang ada di sekelilingnya). Saat itulah keduanya membangun pondasi-pondasi. Dan Ismail ‘alaihissallam membawa kepada ayahnya batu-batu dan Ibrahim ‘alaihissallammenyusunnya. Sehingga, ketika telah mulai tinggi, ia mengambil batu dan diletakkan agar Ibrahim ‘alaihissallamdapat naik di atasnya. Demikian, dilakukan oleh keduanya, dan mereka berkata:

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Ya Rabb kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al-Baqarah: 127).
Dari pemaparan kisah-kisah di atas, banyak pelajaran penting dan berharga yang dapat dipetik, di antaranya:
  1. Nabi Ibrahim ‘alaihissallam adalah hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Subhanahu wa Ta’ala yang amat taat kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala, sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikannya sebagai hamba yang sangat disayangi.
  2. Pilar utama upaya tazkiyyatun-nufus adalah dalam hal tauhid. Dan berdakwah menyeru kepada tauhid merupakan amanat yang dipikul para nabi, dan sekaligus menjadi panutan bagi setiap dai.
  3. Kesabaran dalam mendakwahkan tauhid dan ketabahan dalam menghadapi ujian di jalan itu, harus dilakukan sesuai dengan cara yang dicontohkan oleh para rasul ‘alaihissallam.
  4. Yakin terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam mengarungi kehidupan.
  5. Perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan hal terpenting di atas segalanya. Ketulusan hati dalam melaksanakan segala perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah kebahagiaan. Maka selayaknya kita berupaya secara maksimal untuk melaksanakannya diiringi doa memohon taufik serta kemudahan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
  6. Segala contoh kebaikan telah ada pada diri para Rasul ‘alaihissallam yang harus selalu menjadi suri tauladan bagi kita dalam setiap hal. Wallahul Musta`an..
[Disalin dari tulisan Ustadz Rizal Yuliar di majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun XII/1429/2008M]

Search Our Site